Sobat muda-mudi, kurang lebih sudah empat bulan ini aku (penulis tulisan ini) konsisten berkirim surat (secara online) dengan orang asing di Fiji. Kami bercerita banyak hal. Ini adalah berkah yang unik di 2020 ini. Di segala ketidakpastian, kita memulai banyak hal-hal baru, seperti itu juga aku. Dikarenakan melihat seorang kreator konten yang menceritakan pengalamannya memiliki teman pena melalui aplikasi ponsel bernama Slowly, aku mendorong diri untuk mulai menulis surat. Penasaran bagaimana pengalamanku punya teman pena online? Baca terus tulisan ini ya.

Betemu Teman dari Fiji

Temanku di Fiji bernama Lorna. dia dan aku berbagi minat yang sama, yaitu menulis. Awalnya obrolan kami hanya untuk saling mengenal, mulai dari masalah profesi dan kondisi negara masing-masing. Lalu obrolan kita berlanjut ke topik-topik observasi sosial atau psikologi. Kita juga saling bertukar lagu-lagu favorit. Menariknya lagi, kita menemukan fakta bahwa kami sama-sama menikmati  jalan kaki dan transportasi publik.

Mengenal Tradisi Fiji dan Membagikan Tradisi Riau

Pada sebuah surat, dia pernah bercerita tentang adatnya. Sebuah tradisinya untuk traveler. Tradisi ini disebut ‘mamasa’, ini adalah ucapan syukur karena sosok yang disambut telah tiba dengan selamat di pantai. Di masa lalu dilakukan untuk wisatawan. Ini semacam keharusan untuk dilakukan, terutama untuk orang-orang seperti dia yang lahir dan dibesarkan di tempat lain selain Rotuma. Tetapi tidak begitu banyak dilakukan untuk traveler mancanegara (opsional). Karena dia berbagi cerita tentang adatnya, aku juga membagikan cerita tentang adat menari Sekapur Sirih untuk menyambut tamu di tempat asalku di Riau.

Memulai Topik yang Lebih Mendalam dan Personal

Namun, sejak Agustus, obrolan kami menjadi cukup deep. Diawali dari aku yang memancingnya untuk mengobrol tentang MBTI, kami jadi membahas saling membahas diri.

Dia bercerita tentang keresahannya, Dia merupakan orang yang sangat menolak konflik atau konfrontasi, itulah membuatnya senang berada di sekitar orang-orang yang tidak keras kepala dan tidak memicu suasana negatif. Katanya, hal sebegitu adalah hal yang sangat jarang, mayoritas persahabatan wanita yang solid dibangun di atas gosip kosong dan saling benci terhadap seseorang. Atau juga dibangun dari topik-topik tentang laki-laki. Juga baginya percakapan jaman sekarang, terasa hampa. Seolah-olah  aneh jika membahas topik yang lebih dalam, selain sains atau politik.

Menceritakan Keresahan Pribadi

Aku juga bercerita banyak padanya. Aku bercerita tentang keresahanku pula. Aku katakan padanya bahwa hal yang membuat aku mati saat bersosialisasi adalah ketika intuisiku merasakan ada sesuatu yang salah dengan seseorang, terutama terkait pikiran atau kejujuran mereka, jika aku merasakan sesuatu yang tidak biasa, suasana hatiku biasanya turun, tetapi aku selalu bisa menutupinya dan tetap terlihat santai dalam berinteraksi.

Aku katakan padanya dia harus ingat bahwa seorang ekstrovert juga bisa intuitif, hanya saja cara kita bereaksi terhadap intuisi kita berbeda. Sepertinya seorang ekstrovert juga butuh memiliki koneksi yang bermakna, hanya saja aku menjumpai koneksi yang mendalam dari banyak koneksi yang sudah terjadi. Aku katakan padanya bahwa aku menghormati semua koneksi apakah itu koneksi yang berarti atau koneksi biasa. Kuceritakan bahwa ketika aku mendapatkan interaksi yang berarti dengan seseorang, itu berarti orang itu dan aku telah memasuki tahap persahabatan yang lebih dalam.

Punya Teman Pena Terasa Nyaman di Jiwa

Hingga saat ini kami terus bertukar surat. Ini semua terasa indah di benakku, bisa berbagi cerita dan mendapat banyak wawasan dalam kehidupan. Pantas saja orang-orang jaman dulu sangat senang memiliki teman pena. Jiwa kita butuh hal-hal sebegini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here