Bagi millennial, apa jadinya Ramadan di Indonesia tanpa serial televisi tahunan ber-pemikiran Islam? Ada stereotip sederhana yang dipakai menjadi formula film-film ataupun serial Televisi, formulasi ini bersifat Islamicate. Dalam formula itu umumnya membutuhkan tokoh-tokoh berdasarkan kultur yang dipengaruhi Islam di Indonesia yang dijauhkan dari esensi dan pesan-pesan utama agama Islamnya sendiri, misalnya karakter seorang Kyai yang santai, seorang anak nakal di ambang kebaikan, dan seorang wanita Muslim yang cantik berhijab.

Formula Islamicate Versus Deddy Mizwar

Untuk formula Islamicate itu, mungkin tidak ada salahnya untuk menyebut nama Deddy Mizwar sebagai pembawa tren ini. Gabungan semua itu dapat kamu dapatkan di karya-karyanya seperti ‘Kiamat Sudah Dekat‘, ‘Para Pencari Tuhan‘ atau ‘Hikayat Pengembara’. Tetapi sesungguhnya Deddy Mizwar “mengendarai” formula Islamicate itu dengan bijak, karya-karya beliau sudah berani memasukkan pemikiran Islam dalam formula yang biasanya hanya memedulikan stereotip kultural masyarakat Islam Indonesia saja.

‘Lorong Waktu’ Proyek Eksentrik Deddy Mizwar

Ada satu serial televisi karya Deddy Mizwar yang lain dari yang lain. Judulnya ‘Lorong Waktu’, secara awam ini adalah serial televisi tahunan yang tayang tiap Ramadan yang unik. Memangnya apa yang tidak pernah Deddy Mizwar coba sebagai sineas? Semua yang menjadi standar sinetron agaknya sudah dicobanya. Membuat kisah cinta Islami juga tentu sudah pernah beliau buat. Komedi memberikan tawa juga jadi hal yang pernah beliau rambah. Pesan-pesan moral yang diambil dari Quran, paling sering beliau karyakan.

Pesan-pesan dengan worldview of Islam

Dari semua yang Deddy Mizwar lakukan sebagai sineas, ini yang paling out of the box. Serial televisi perjalanan waktu. Betul, karakter Pak Haji (Deddy Mizwar) tidak hanya berkeliling mengajari sekelompok mantan narapidana bagaimana menjadi pria Muslim yang baik seperti serial televisi ‘Para Pencari Tuhan’. Lebih dari sekadar itu, tokoh Pak Haji melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu, mengunjungi masa depan Indonesia. Lalu kemudian, tokoh Pak Haji selalu jadi pemberi pesan-pesan berdasarkan pemikiran Islam. Tak akan kamu temukan satu episode-pun tanpa pesan ber-worldview Islam.

Percobaan Pertama dan Paling Membekas

Bagi orang luar Indonesia, fiksi ilmiah tentang perjalanan waktu mungkin tidak terlihat istimewa, tetapi perlu kamu ketahui bahwa tidak ada ide seperti ‘Lorong Waktu’ di televisi Indonesia pada saat itu. ‘Lorong Waktu’ berlangsung selama enam musim, muncul setiap Ramadhan antara 1999 dan 2006, walau sempat tak diproduksi di tahun 2002. ‘Lorong Waktu’ adalah percobaan pertama serial fiksi ilmiah oleh jaringan televisi Indonesia dan masih salah satu yang terbaik.

‘Lorong Waktu’ Tidak Mengekor Tren Barat

Dalam karya-karya fiksi ilmiah dari luar negeri, perjalanan waktu memungkinkan karakter mengubah nasib mereka. Mereka melakukan sesuatu di masa lalu dan kemudian mereka tiba-tiba kaya dan berkuasa kembali di masa kini. Kita sama-sama dapat melihat plot semacam ini secara kasar direplikasi khususnya di film-film Hollywood. Tapi ‘Lorong Waktu’ tidak peduli dengan tren film-film perjalanan waktu dari barat.

‘Lorong Waktu’ Tidak Berenang Di Kolam Hollywood

Tidak ada seorang pun di ‘Lorong Waktu’ yang ingin melakukan perjalanan melintasi waktu untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Pak Haji dan timnya, melintas waktu justeru untuk memperdalam atau memulihkan pemikiran keislaman seseorang. Ini adalah perjalanan waktu yang berfungsi sebagai ikhtiar dan dengan melawan segala pakem Hollywood itu memungkinkan Deddy Mizwar menawarkan penonton serial televisi perjalanan waktu yang berpemikiran Islam dan tak sekedar Islamicate.

Sinema Tapi Zuhud

Dalam Islam, ada istilah zuhud. Artinya melepaskan diri dari pengaruh-pengaruh standar duniawi dan bersyukur atas apa yang kamu miliki. ‘Lorong Waktu’ adalah tampilan persis seperti apa itu zuhud dalam karya sinema. Orang Indonesia punya kecenderungan untuk berlebih-lebihan dalam menginterpretasi skenario futuristik, ini dipengaruhi oleh industrialisasi dunia sinema yang condong mengarahkan ideologinya ke kapitalisme, sedangkan ‘Lorong Waktu’ menghindari itu dengan memahami keterbatasan teknologi, SDM dan tetap bersyukur atas apa yang sineas lokal miliki: mesin waktu yang tampak sederhana dan dapat berfungsi walau hanya menggunakan satu komputer. Dalam kesederhanaan, karya ini mampu berpesan dengan tepat sasaran.

Kapan terakhir kali kita punya tontonan semacam ‘Lorong Waktu’? Mungkin generasi 90an cukup merindukan karya-karya semacam ini. Tentu untuk meningkatkan level tontonan dan mengikuti perkembangan penonton-penontonnya yang kini telah beranjak dewasa, mungkin ada baiknya diadaptasi saja ke dalam sebuah feature film. Kalau penulis sendiri beropini dari melihat bagaimana Guntur Soeharjanto memvisualisasikan ‘Ayat-Ayat Cinta 2′, rasanya dialah yang layak menyutradarai versi film ‘Lorong Waktu’. Bisa dibayangkan bagaimana kombinasi eksentrik pemikiran Islam dengan narasi Sci-Fi berada di bawah arahannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here