Hai kamu, sudah pernah dengar istilah thrift, thrift shopping atau thrifting belum? Ini adalah kultur belanja fashion yang semakin hari semakin populer di Indonesia, bahkan banyak dari kita-kita yang pernah lihat iklan pakaian preloved, pakaian bekas dan sebagainya di akun-akun sosial media kita. Kultur ini tengah digemari sebab semua orang tetap bisa bergaya sambil menjaga lingkungan. Semakin banyak penelitian yang membuktikan bahwa produk-produk fast-fashion dari korporasi-korporasi besar di industri pakaian menjadi penyumbang utama untuk problematika limbah dunia, banyak orang-orang bahkan anak-anak di Indonesia yang jadi korban masalah kesehatan akibat limbah, hanya karena mereka hidup di pinggiran sungai yang secara diam-diam maupun terang-terangan dijadikan tempat pembuangan limbah oleh korporasi-korporasi tersebut.

INGAT-INGAT HAL-HAL PENTING TENTANG THRIFT INI

Thrift sebetulnya menjadi populer beberapa tahun ke belakang, namun kultur ini sudah lama ada di kehidupan masyarakat Indonesia, dulu kita mengenalnya dengan istilah, pasar jongkok, pasar loak atau pasar barang bekas. Baik di kota besar atau kecil, pasar sebegini sudah banyak tersebar di seantero negara kita. Namun, seiring pesatnya tren ini, banyak orang-orang yang membuka toko barang bekas dengan konsep-konsep yang menarik dan membawa kenyamanan dalam berbelanja. Hal-hal penting untuk diingat dalam berbelanja pakaian bekas adalah; (1) selalu fokus memperhatikan detail untuk mendapatkan barang dengan kualitas terbaik, (2) sabar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan saat memilih pakaian, (3) bagi yang berbelanja di pasar, gunakan kesempatan itu untuk menawar demi mendapat harga terbaik, (4) pastikan selalu mencuci pakaian yang telah kita beli dengan sebersih mungkin sebelum dikenakan.

KINI, THRIFT MENJADI PELUANG BISNIS POPULER

Kesempatan bisnis toko thrift dinilai lumayan menggoda. Mari kita ambil contoh pada sebuah toko online di Instagram, diakui jika mereka dapat memperoleh keuntungan dalam kisaran 8 hingga 10 juta rupiah dalam satu bulan. Pakaian-pakaian dari thrifting bisa dikatakan bergaya unik dibanding produk-produk fashion yang umum ada di masyarakat. Bisa dikatakan justru cenderung bernilai lebih. Mayoritas pengguna produk thrift lebih tertarik pada barang bekas dengan kualitas bagus dibanding barang-barang baru, faktor pertimbangannya adalah perbandingan antara kualitas dan harga. Barang-barang thrift selalu punya konsumennya tersendiri sehingga sehingga sangat menarik untuk dijadikan bisnis.

MODIS DAN SESUAI KEPRIBADIAN

woman with blue denim jacketKarena produk-produknya yang selalu tampil beda dengan tren yang ada di masyarakat, kita jadi bisa mendapatkan produk yang jarang dan sulit ditemukan di pusat berbelanja umum. Produk-produk di toko thrift umumnya selalu khas dan memiliki banyak pilihan, sehingga kita dapat membentuk gaya yang sesuai dengan pribadi kita sendiri.Di toko thrift, jarang ditemukan style yang sama, sehingga produk-produk yang kita beli bisa dikatakan spesifik hanya dimiliki oleh orang yang membelinya. 

MURAH & BER-VALUE

one cowboy hat and five jackets hanged on clothes rackProduk-produk thrift  memang merupakan barang-barang sudah tak digunakan lagi oleh pemilik sebelumnya, sehingga belanja pada toko thrift memanglah murah apalagi jika dibandingkan belanja produk baru pusat perbelanjaan umum. Lagi pula, kita juga bisa menawar harga yang diberikan jika kita memilih thrifting di pasar. Sering ditemukan pakaian bermerek di toko thrift itu adalah value lebih yang bisa kita dapat dengan harga murah. Tahun produksi produk-produk thrift memang bisa dibilang tidak baru, tapi itu juga dapat dinilai sebagai value lebih dari produk yang kita beli.

BERGAYA SAMBIL MENJAGA BUMI

woman in white dress standing on green grass field during daytimeLimbah busana (fashion waste) diakui masih tak bisa dihindari dan sulit dikendalikan, ini karena pakaian adalah kebutuhan primer. Tren fast fashion yang mementingkan produksi yang masif dan cepat juga terus berputar dan akibatnya ada pada pengelolaan limbah yang buruk untuk lingkungan. Semakin banyak konsumsi kita pada produk pakaian fast fashion, maka semakin meningkat pula produksi besar-besaran pada industri busana. Maka, untuk kehidupan kita yang lebih baik di masa depan, kita dapat membeli dan menggunakan kembali barang bekas. Dengan mengikuti kultur thrift, kita sudah  ambil andil dalam mengurangi jumlah produk yang akhirnya hanya akan jadi sampah. Untuk itu, belanja barang bekas dapat diklasifikasi sebagai aksi menjaga alam dan juga bagian dari kultur ramah lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here