Badanku terlalu pendek untuk seorang pria katanya, untuk menyembunyikan diri di sekolah selalu aku pakai kupluk dari jaket putih di luar seragamku. Setiap kali melewati  beranda sekolah selalu ada degup dan rasa buru-buru dariku, menghindar dari dia yang selalu meneriakiku, dia bernama Bontor, rahang kerasnya, alis tebal dan rambut keritingnya sudah menjadi momok bagiku, bersamanya selalu ada sosok-sosok penyokong yang menyempurnakan awan hitam di kelompok mereka, dua diantaranya adalah Agnes dan Abab dan kadang-kadang jauh lebih ramai yang duduk-duduk bersama Bontor.

Dia tidak meneriaki nama asliku, dia meneriaki nama yang dia buat untukku, dia panggil aku Kalsium, itu karena aku butuh lebih banyak lagi kalsium untuk bertahan hidup, katanya. Tapi sebetulnya aku tahu kalau dia hanya butuh pelampiasan atas rasa tidak aman yang tertanam di hatinya. Aku jadi bahan hiburannya setiap terlihat di beranda sekolah, entah tiba-tiba disuruh doa, disuruh menari, atau untuk dilihat dan dicemooh tampilanku.

Ini terjadi sejak aku berpidato di upacara sekolah, aku mengungkapkan pendapatku tentang serunya berada di sekolah ini, tapi mungkin di matanya aku naif dan dia merekam aku lalu menyebar sebagian potongan  di Instagram, potongan itu membuat aku terkesan bodoh karena dia hanya membagikan bagian-bagian yang aku terlihat gugup. Semenjak itu aku jadi lelucon sekolah dan setiap berhadapan dengannya aku diteriaki dan dijadikan bahan hiburan.

Hanya ketika libur aku dapat terbebas dari kegilaan ini. Minggu lalu, aku terlalu muak diperlakukan begini, sampai aku datangi ia di kantin dan mengatakan “aku siap berkelahi”. Hari ini, 16.45 aku berjalan ke rumah, keluar gerbang sendirian, dalam pikiran aku bilang “aku tak ingin masalah, tapi masalah selalu datang”.  Agak jauh dari sekolah, ada area gumuk, aku lihat ada Bontor, Abab dan Agnes di sana, hatiku terpompa, dadaku berteriak, pikiranku berlari, telingaku naik, kuangkat tanganku dan kukatakan pada anak itu “aku siap berkelahi!”

Gumuk adalah bukit pasir di tepi laut, tempatnya memang agak jauh dari sekolahku, tapi satu-satunya jalan menuju rumah pasti melewati gumuk itu. Di luas dan bergelombangnya dataran gumuk, aku merasa begitu gugup, tapi aku tak punya pilihan. Aku ingin babak baru dari penindasan padaku dalam hidup ini, sudah penat mejadi yang terkucilkan, sekali-kali aku ingin dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekali-kali aku ingin dia tak aku turuti.

Dari jauh mereka bertiga berlari ke arahku, mendorongku hingga terjatuh, aku hanya diam dan dikeroyok. Di otak ini, semua bagai gerak lambat dan dalam hati aku berkata “Pukul wajahku, lakukan itu karena aku suka rasa sakitnya. Setiap kali kau mengutuk namaku, aku tahu kau menginginkan kepuasan, itu tidak akan terjadi”. Aku terkapar kesakitan dan mereka berjalan menjauh, saat itu hatiku berkata “Hajar aku, tendang aku saat aku di tanah. Itu hanya akan mengecewakanmu. Kaulah yang akan menderita”.

Mereka sudah cukup jauh, aku berdiri lagi. Mereka lihat aku berdiri, dipandanginya aku dan jantungku berdegup kencang, dadaku menjerit, pikiran mengalir, hidung berdarah, ku angkat tangan, ku katakan lagi bahwa “aku siap berkelahi”, kali ini aku ucapkan saja keras-keras “Pukul wajahku, lakukan itu karena aku suka rasa sakitnya. Setiap kali kau mengutuk namaku, aku tahu kau menginginkan kepuasan, itu tidak akan terjadi”. Bontor mendekat dan diludahinya aku dan berjalan pergi lagi.

Aku mulai lanjutkan ke rumah, dalam benak entah kenapa ada rasa puas, masih terngiang kata-kataku Sendiri padanya yang mengatakan “Pukul wajahku, lakukan itu karena aku suka rasa sakitnya. Setiap kali kau mengutuk namaku, aku tahu kau menginginkan kepuasan, itu tidak akan terjadi”. Hari semakin gelap, Ini pukul 18:48, aku ingat dengan pasti Bontor berjalan pulang dengan darah di tangannya dari hidungku yang patah.

Aku melewati depan rumah Bontor, tapi yang aku tahu, sepertinya setiap hari, Bontor takut kembali ke rumahnya karena ayahnya ada di rumah, ayah yang menenggelamkan masalahnya dalam banyak minuman alkohol, ayahnya sudah mabuk sejak Bontor masih kecil. Aku tergerak untuk mengintip Bontor, tapi tak aku lihat apa-apa, sampai cukup lama di depan rumah Bontor aku saksikan sesuatu, aku lihat Bontor ditendang ayahnya hingga ke luar pintu, Bontor dilempar botol beling, saat itu aku lari kencang meninggalkan mereka, tapi aku tahu Bontor juga lari dari ayahnya.

Di jalan, aku berlari dan bontor berlari di belakang aku, tak lama dia sejajar dengan aku, ditepuknya pundakku, kita berlari bersama. Entah mengapa aku tak ingin sejajar dengannya, aku berlari lagi dengan lebih kencang, begitu kencangnya sampai aku sadar kalau Bontor tak lagi di belakangku. Ternyata, Bontor bukan tertinggal olehku, dia sudah di depan, dia melewati jalan pintas. Aku tak puas, aku kejar lagi hingga sejajar, kami berlari bersama sampai kelelahan, tak kuat kami sama-sama tertidur di aspal, entah kepuasan dari mana, aku dan dia sama-sama tertawa, Saat itu ternyata sudah menjelang larut.

Hari sudah cukup malam. Aku dan Bontor berjalan sampai ke rumahku. Aku tidak berani mengajaknya masuk, tapi malam ini dingin, aku hanya diam dan tak lama kupikir “ya, sudahlah”, kuberikan dia jaket putih yang aku pakai seharian, dia terima dan dipakainya. Aku berjalan masuk ke rumah, di depan pintu aku tolehkan kepalaku ke dia sebentar, masih aku lihat darah hidungku di jaket itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here